Konglomerasi Media, siap-siap menerima pemaksaan opini
![]() |
Post Page Rank |
Konglomerasi media sudah mulai menjangkiti Indonesia. Sebut saja MNC yang sudah memiliki RCTI, Global TV, TPI dan koran Seputar Indonesia. Media Group dengan Media Indonesia, Metro-TV dan Lampung Post. Trans-TV mengakuisisi TV-7 dan menggantinya menjadi Trans-7. Dapat kabar dari The Gadget kalau MNC akan meluncurkan sebuah portal berita pesaing Detik. The Gadget masih malu-malu. Akan tetapi, Ndoro Kakung Pecas Ndahe yang mendapat bisikan langsung saja membagikan alamat IP untuk portal berita yang katanya akan diberi nama OkeZone.Com itu. Lihat pada Portal Pecas Ndahe.
Apakah MNC yang sudah menguasai tiga stasiun televisi, sebuah koran dan akan meluncurkan portal berita itu mengembangbiakkan bisnis medianya hanya karena nafsu bisnis atau ada agenda lain, saat ini kita belum tahu. Akan tetapi, konglomerasi media semacam ini dapat membawa kepada pemusatan pembentukan opini. Bayangkan dengan sebuah opini yang dibentuk dan disiarluaskan di RCTI, TPI, Global-TV, Koran Sindo dan OkeZone.Com, opini itu akan diserap oleh khalayak yang sangat luas. Apakah tidak sebaiknya konglomerasi media seperti ini dibatasi? Kang Kombor belum mengubek-ubek UU Penyiaran. Kalau ada yang tahu, boleh kasih masukan. Sing pesthi, miturut Kang Kombor, ing tembe mburi iki mbebayani tumraping bongso.
Dilihat 207 kali oleh 130 pengunjung

















Konglomerasi = “keserakahan”. Maaf sepertinya kalau ada yg bersifat seperti itu mestinya namanya di ganti saja menjadi DUL RAUP. Motifnya apalagi kalau tidak mencari keuntungan belaka dengan berbagai dalih. Mumpung belum dibikinkan larangannya.
model begini bisa jadi ancaman bagi karyawan di bidang ybs. Harga jual karyawan jadi rendah. Masak orang TransTV mau pindah ke Trans7, kalo dulu kan masih bisa. Masih bisa maen bajak-bajakan. Lah kalo sekarang? Begitu udah masuk ke salah satu konglomerasi, paling kesempatan pindah hanya ke konglomerasi yang lain. Demand sedikit, harga turun. Gak bisa jual mahal. hehehehe
Iya bisa dibayangkan kalo ada pemusatan informasi dan informasi tersebut .. *gak berani bayangin* ahhhh….
@Pak Guru Urip: DUL RAUP itu raup-nya Boso Jowo (membasuh muka) atau raup Bahasa Indonesia (meraup)?
@Kang Tabah: Saya kurang jeli melihat bahwa penggabungan kepemilikan beberapa stasiun tv akan mengakibatkan harga ahli pertelevisian jadi rendah. Terimakasih infonya.
@Mas Syarwin: Mungkin secara tidak sadar saat ini kita sebenarnya sudah menjadi korban pemusatan informasi itu. Bayangkan saja MNC sudah punya 3 stasiun tv (RCTI, Global tv, dan TPI) dan Trans (nama grupnya apa?) sudah punya 2 (Trans-TV dan Trans-7)
Sing pas yah yang bahasa indonesia toh kang. BTW selain TV edukasi kok gak ada TV yang memberikan nuansa lain tentang pendidikan yah… Kang Kombor wae yang bikin yo, biar ada pembanding dalam negeri.
Dengar-dengar Pak Guru sudah merintisnya.