Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429H

Sinetron kok ditonton, nggak ada gunanya

Post Page Rank

Pada edisi selancar kali ini Kang Kombor terinspirasi untuk menulis setelah membaca Merkurius Nyasar di tempat Mbak Lita. Hahaha… lucu banget, ada air raksa dengan kode H2SO4. Lalu ada pula yang pegang merkurius. Yang mbikin skenario mungkin nggak sempat mau belajar kimia dikit-dikit karena ngejar orderan skenario sinetron asal jadi. Terus terang di tempat Mbak Lita itu saya komentar, “Sinetron kok ditonton. Nggak ada gunanya.”

Itu bukan komentar basa-basi. Terus terang kalau kebetulan sudah sampai di rumah pada jam-jam sinetron ditayangkan, saya lebih suka menuju saluran Trans-7 yang suka muter film jam 7 malam. Kalau pukul 21, saya milih Trans TV untuk menikmati Bioskop Tran TV. Sinetron sama sekali nggak pernah saya lihat. Sinetron-sinetron yang diputer di televisi saat ini nggak ada mutunya sama sekali. Nggak ada unsur pendidikan di dalamnya.

Coba kita bandingkan dengan sinetron zaman dulu. Kang Kombor masih ingat sinetron ACI (Aku Cinta Indonesia) di mana ada Amir, Cici dan Ito. Sinetron itu selain menghibur juga sarat dengan ajaran-ajaran. Lalu mari kita ingat-ingat sinetron Serumpun Bambu, di mana ada Mas Barep dan Ragil (hanya tokoh itu yang nyangkut di memory Kang Kombor). Serumpun Bambu juga memiliki kandungan pendidikan, bukan hanya hiburan semata. Tengok pula Losmen. Walaupun sederhana namun berisi. Tak ketinggalan adalah Rumah Masa Depan. Di zaman stasiun televisi sudah mulai bertambah, kita bisa menikmati Sengsara Membawa Nikmat, atau Si Doel Anak Sekolahan.

Kini zaman semakin maju tetapi sinetron kita makin tak bermutu. Di zaman maju ini, kita dipaksa nonton sinetron dengan skenario ala kadarnya. Dari apa yang ditayangkan sangat terlihat kalau skenario itu tidak disiapkan dengan matang. Ini tercermin dari apa yang Mbak Lita sampaikan di atas. Mosok ada air raksa kodenya H2SO4? Mosok merkurius bisa dipegang? Yang lebih memuakkan adalah melihat anak SMA (laki-laki) kupingnya ditindik dan diberi anting lalu baju seragamnya dikeluarin. Memang zaman Kang Kombor SMP, ada anak-anak yang bajunya dikeluarin tetapi kalau di kelas bajunya dimasukin. Kalau kuping ditindik, antingnya tidak berani dipake di sekolahan. Di luar sekolah berandalan-berandalan itu baru berani make anting.

Mudah-mudahan, kemerosotan di segi ekonomi gara-gara krisis moneter tahun 1997 yang lalu tidak membuat kita mengalami kemerosotan budaya. Budaya kita yang luhur tergantikan dengan budaya pasar yang instan dan tidak berumur panjang. Keanggunan goyangan biduanita dangdut digantikan dengan goyangan ngebor Inul, goyang patah-patah, atau goyangan Trio Macan dengan busana yang menonjolkan lekuk tubuh yang murah. Memang di alam globalisasi di mana liberasi ekonomi tidak bisa dibendung, kita tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kekuatan kapital. Akan tetapi, setidak-tidaknya kita bisa tetap menjaga mutu tontonan kita karena yang akan tercekoki oleh tontonan tidak bermutu itu adalah generasi penerus kita. Apakah karena umumnya sinetron kita ini diproduksi oleh Raam Punjabi yang India itu makanya sah-sah saja sinetron kita dibuat tidak bermutu? Dengan bendera Multivision Plus, semua slot prime-time di sebagian besar stasiun televisi dikuasai. Mau buka RCTI, SCTV atau stasiun yang lain, akan ketemu sinetron-sinetron Raam Punjabi. Rumah Produksi kecil tidak akan mampu menggeser sinetron-sinetron MultiVision Plus walopun sinetronnya lebih bemutu. Di sini, kembali kekuatan kapital yang bicara.

Atau, jangan-jangan sinetron itu bukan budaya? Kok kayak-kayaknya nggak ada budayawan yang mau bicara soal sinetron tidak bermutu yang setiap malam merusak ruang-ruang keluarga kita?

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

Dilihat 298 kali oleh 175 pengunjung

Rekomendasi

Ingin belajar bisnis online? Anda akan dibantu step by step sampai bisa

23 Comments

  1. mrtajib on 06.02.2007 at 16:09 (Reply)

    beul juga ya, kayaknya gak ada budayawan yang menangani sinetron. Coba kalau gus mus turun tangan, aau budayawan lainnya…mungkin lebih manrik ya?

    Tapi, kalau ternyata capital yang lagi-lagi menang, apa mau kata ya?

  2. Kang Kombor on 06.02.2007 at 16:52 (Reply)

    @Kang Tajib:
    Jangan-jangan sinetron itu memang bukan budaya makanya nggak ada budayawan yang mau bicara sinetron. Budaya itu kalau kethoprak, ludruk, wayang kulit, wayang golek, tari piring, … Sinetron? No way!

  3. ekowanz on 06.02.2007 at 17:02 (Reply)

    sinetron yg ada kan kebanyakan buat hiburan tok…sama sekali ga ada unsur pendidikannya..kalaupun ada paling

  4. joesatch on 06.02.2007 at 18:39 (Reply)

    sinetron=sinema elektronik. betul tak? :P

  5. Kang Kombor on 06.02.2007 at 18:48 (Reply)

    @joesatch:
    Betulll…

  6. prayogo on 06.02.2007 at 19:42 (Reply)

    Sampai kapanpun yang namanya sintron tidak akan saya tonton. Semua itu bohong, dan bohong.

    SINETRON Makasi deh

  7. cakmoki on 07.02.2007 at 02:52 (Reply)

    Hehehe, sama. Sementara puasa nonton sinetron. Paling-paling isinya nangis, batuk-batuk, mati.
    Kira-kira kapan ada sinetron mendidik Kang ?

  8. Shinta on 07.02.2007 at 04:13 (Reply)

    Tanya balik nih, kalo sinetron ga mutu, kenapa terus-menerus diproduksi? Walau pemilik blog, komentator dan saya sendiri ga doyan konsumsi sinetron, di luar sana masih banyak fans setia ternyata. Ditunggu analisanya.

  9. Khaidar on 07.02.2007 at 11:37 (Reply)

    skrg dah gak nonton sinetron lagi. film2 TV juga nggak aku tonton. paling2 nonton berita doang….

  10. Kang Kombor on 07.02.2007 at 12:15 (Reply)

    @kang Prayogo:
    Tak cathet, Kang.

    @Cak Moko:
    Kalau Multivision dah bubar kali… hehehe

    @Mbak Shinta:
    Karena UUD: ujung-ujungnya duit. Sinetron itu ditonton kebanyakan oleh ABG yang memang haus akan budaya pop, ibu-ibu yang kurang kerjaan di rumah dan orang yang suka klenik (sinetron-sinetron hidayah, ilahi, dll.). Maaf ya itu pernyataan tanpa data. Untuk melakukan penelitian perlu dana nih, mau nyeponsori po?

    @Khaidar:
    Berita banjir ya?

  11. Khaidar on 07.02.2007 at 15:42 (Reply)

    semua berita sih, nggak banjir aja… salah satunya top 9 news-nya metro tv….

  12. helgeduelbek on 07.02.2007 at 16:22 (Reply)

    Tidak banyak pilihan sinetron untuk dijadikan tontonan lagi sekarang kang, lain jaman kita dulu. Semoga kisah lama membuat tv untuk mendidik bisa terulang lagi. tidak ngejar untung yang bikin orang semakin tidak terdidik amalah teracuni.

  13. agorsiloku on 08.02.2007 at 00:22 (Reply)

    Tentu saja sinetron itu sangat menghibur. Buktinya, terus ditayangkan. Artinya mendapatkan rating yang tinggi. Pemirsanya SANGAT menunggu tayangan ini. Jelas ini sebanding dengan mutunya dong. Sebanding dengan mutu bangsa ini. Jelas kita perlu menghargainya, jelas sangat menghibur, dan yang paling saya sukai dari sinetron-sinetron ini, seluruh gelak tawa dan lagunya, seluruh atribut dan perhiasannya adalah saya tidak perlu menggunakan otak kiri dan otak kanan. Cukup dengan menggunakan otak di atas lutut saja. Inilah kelebihan sinetron indonesia.

  14. Kang Kombor on 08.02.2007 at 10:49 (Reply)

    @Khaidar:
    Kirain berita seputar kehidupan selebritis…

    @Pak Guru:
    Weleh Pak, dari sekian banyak sinetron yang disiarkan lebih dari 10 stasiun tv, ternyata pilihannya nggak banyak yang bisa dijadikan tontonan? Walah … rsak tenan ki negoroku.

    @Om Agorsiloku:
    Nyuwun sewu, Om. Menurut saya menghibur juga tidak. Siapa tahu rating bisa dibeli. Atau, sepertinya sinetron itu dilihat oleh pemirsa padahal tv dibiarkan nyala saja tanpa ditonton acaranya. Saya sering lo seperti itu, ninggalin tv nyala tanpa dilihat. Kan boros listrik? Halah … (nyuwun sewu) nanti kalau dah nggak kuwat mbayar takpatenane tipine.

  15. agorsiloku on 08.02.2007 at 17:40 (Reply)

    Astagfirullah, sampeyan tidak boleh main mengustadkan agor. Ini benar-benar “dosa”. Masya Allah, Kang Kombor tega-teganya memasukan saya pada penjara blogger. Apa salah ana sehingga dimasukkan dalam kurungan?. Biarkan saya tetap memilih sinetron hidayah atau nonton insert setiap hari. Ini puanting sekali untuk mengistirahatkan otak….
    Kang Kombor bertanggung jawab penuh untuk menghilangkan kata itu pada kata agor. Semoga permintaan ini dikabulkan. Tengkyu. agor

  16. Kang Kombor on 08.02.2007 at 19:40 (Reply)

    @Om Agor:
    Sudah Kang Kombor ganti jadi Om. Kalau Om, nggak cuma nonton insert, nginsert-nginsert juga boleh… hehehe…

  17. agorsiloku on 09.02.2007 at 09:57 (Reply)

    Tengkyu Kang, Om bolehlah, biar nonton insert..

  18. agoy on 20.02.2007 at 11:34 (Reply)

    ada ko sinetron yang bagus jaman skarang,tunggu ya dipikir-pikir dulu…mmm…apa ya…tunggu tunggu…pasti ada…ooiya ngga ada deng…

  19. Kang Kombor on 20.02.2007 at 12:20 (Reply)

    @Om Agor:
    Sama-sama.

    @Agoy:
    Ada kaleee…

  20. [...] Metro TV yang digemari publik walaupun menurut lembaga pemeringkat acara tv ratingnya tidak sebagus sinetron tak bermutu terancam akan disomasi oleh pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Informatika, Tuan Sofyan [...]

  21. ferdhie on 06.03.2007 at 13:40 (Reply)

    sama, ga seneng nonton sinetron, kecuali: kalau yg main Cut Tari / Mulan, eh Wulansari.

  22. arif on 25.06.2008 at 08:57 (Reply)

    pusing sinetron indonesia payaaah

  23. Gogon_tanpa_narkoba on 24.09.2008 at 06:10 (Reply)

    Hari Gini Nonton Sinetron?
    APA KATA DUNIAAAA…

Leave a comment