Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429H

SMA Taruna Nusantara: 20 kursi untuk anak pejabat

Post Page Rank

Kang Kombor serasa disamber bledheg dan tidak sempat tereak, “Gandrik putune Ki Ageng Selo!” waktu baca Jualan Jatah Bangku di Sekolah Favorit. Yang bikin Kang Kombor serasa disamber mbledheg itu adalah kutipan pada tulisan itu:

“Setelah berbagai upaya pencarian dana dilakukan dan untuk menutupi biaya operasional saja yang sudah sangat berat apalagi menutupi biaya lain, maka lembaga kembali lagi ke potensi dana awal yaitu orang tua siswa. Sehingga muncullah wacana ‘penerimaan jalur khusus’ siswa TN untuk menutupi biaya operasional. Dari perbincangan saat itu, Ketua LPTTN memberikan gambaran dari sekitar 300an siswa, 200 siswa merupakan hasil seleksi murni (terdiri dari beasiswa dan biaya sendiri yg normal/1,7jt per bulan), 70an lewat penerimaan jalur khusus dan 20an jatah titipan anak2x pejabat.”

Entah papabonbon mengutip dari mana. Yang jelas, pernyataan Ketua LPTTN itu membuat bulu kuduk bergidik. Disamber bledheg sampai gosong pun masih bisa bergidik gara-gara pernyataan 20an jatah titipan anak2x pejabat. Edan!

Negeri ini kok makin menunjukkan boroknya. Soal titip menitip dan jatah menjatah yang merupakan perilaku tidak fair alias tidak adil yang pada dekade lalu masih merupakan sesuatu yang selalu ditutupi dan diselimuti rapat-rapat, kali ini sudah tidak perlu lagi ditutup-tutupi. Pejabat, yang seyogyanya adalah pelayan rakyat — sebagaimana yang ditunjukkan dalam masyarakat feodal dan bermental inlander alias orang jajahan — justru dinyatakan sebaliknya. Pejabat adalah merupakan orang yang harus dilayani. Indonesia tidak bisa mengartikan public servant menjadi pelayan publik. Oleh raja lalim, public servant diterjemahkan menjadi abdi negara. Mangkanya sah-sah saja kalau ada pejabat yang semena-mena menjadi lawan rakyat. Mereka berdalih melaksanakan perintah negara. Mereka berpikir rakyat bukanlah negara. Mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pernah mendapakan pelajaran PMP sehingga tidak pernah tahu bahwa negara itu hanya sebuah makhluk imajiner yang memiliki 3 unsur: wilayah, pemerintahan dan warga negara. Kalau mengatasnamakan negara, seharusnya mereka mengatasnamakan 3 unsur pembentuk negara. Kalau mau sewenang-wenang, jangan bawa-bawa negara, bawa saja pemerintah karena yang suka sewenang-wenang memang pemerintah.

Pejabat apa yang berhak punya jatah untuk menitipkan anaknya di SMA Taruna Nusantara? Kalau melihat lingkungan LPTTN yang merupakan sebuah lembaga di bawah Departemen Pertahanan, semestinya yang memiliki jatah itu adalah pejabat-pejabat dari TNI. Pejabat apa? Mestinya pejabat dengan pangkat minimal bintang.

Kang Kombor benar-benar skeptis negara ini bisa maju kalau mental pejabat-pejabat di lingkungan LPTTN masih seperti itu, memberi priviledge kepada pejabat, memberi jatah 20 kursi untuk pejabat menitipkan anaknya di SMA Taruna Nusantara. Mereka merancang Triprasetya Siswa SMA Taruna Nusantara dan meminta setiap siswa berjanji untuk mewujudkan kecerdasan, kemajuan dan kesejahteraan dan di manapun berada memberikan karya terbaik bagi masyarakat bangsa negara dan dunia, tetapi mereka sendiri mengangkangi makna Triprasetya Siswa itu. Sebagai alumni, Kang Kombor masih terikat dengan tiga janji itu karena janji alumni berisi “Kami Alumni SMU Taruna Nusantara Dengan ini berjanjiakan memegang teguh dan melaksanakan janjinTri Prasetya Siswa SMU TAruna Nusantara dalam pengabdian kami kepada bangsa dan Negara.”

Benar-benar gombal!

Inilah cermin bangsa(t) kita. Bangsa(t) yang katanya merdeka tetapi sejatinya dijajah oleh bangsa(t) sendiri. Rakyat harus melayani pejabat dan selalu maklum pada apa pun yang mereka perbuat, walaupun perbuatan itu sangat-sangat tidak terhormat bagi pejabat laknat itu sendiri. Rakyat harus menerima pandangan bahwa pejabat telah mengabdikan hidupnya untuk kepentingan negara sehingga pejabat harus diberi fasilitas yang lebih daripada rakyat. Pejabat yang gajinya sak-erat-erat boleh makan listrik gratis, telepon gratis, mobil selalu penuh BBM sementara rakyat harus rela membayarnya dengan harga yang lebih mahal dibandingkan apa yang dibayar rakyat negara-negara lain yang tidak punya Pancasila, negara-negara yang tidak punya janji untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Kalau sudah dinyatakan demikian, tentunya selama ini telah dilaksanakan demikian. Sebagai orang yang bisa hanya mengeluh di blog, Kang Kombor tidak bisa berbuat apa-apa kecuali meminta agar transparansi dan akuntabilitas tetap ditegakkan. Silakan saja tetap dipraktekkan pemberian jatah 20 kursi SMA Taruna Nusantara untuk jatah anak pejabat asal:

  1. Diumumkan kepada publik nama siswa dan nama orang tuanya yang pejabat, lengkap dengan jabatannya.
  2. Diumumkan kepada publik, nilai hasil seleksi anak-anak pejabat itu, baik nilai tes akademik maupun tes lainnya

Hanya dengan hal seperti itu akuntabilitas bisa ditegakkan. Kalau LPTTN malu mengumumkannya, seyogyanya pemberian jatah-jatahan itu dihapuskan dari medan persaingan penerimaan siswa SMA Taruna Nusantara.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

Dilihat 907 kali oleh 490 pengunjung

Rekomendasi

Ingin belajar bisnis online? Anda akan dibantu step by step sampai bisa

24 Comments

  1. xwoman on 05.03.2007 at 19:11 (Reply)

    Cermin bangsa(t), mana ??? ga kethok Burem, semrawut, ireng pool :(

  2. Anang on 05.03.2007 at 21:05 (Reply)

    tetep aja KKN ga bisa dihapus dari bumi pertiwi ini, sudah jadi budaya bangsa yang perlu dilestarikan.. spertinya..

  3. helgeduelbek on 05.03.2007 at 21:18 (Reply)

    revolusi wae, piye kang?

  4. ferdhie on 05.03.2007 at 22:37 (Reply)

    emang apa sih bagusnya sma taruna nusantara? kalo ama kamdol malang bagus mana?

    salam kenal :p

  5. prayogo on 06.03.2007 at 05:57 (Reply)

    Kang memang inilah yang saat ini sedang terjadi dengan bangsa kita. Uang bisa membuat segalanya, yang awalnya tidak mungkin jadi mungkin. Siapa yang punya uang dan kuasa dialah yang akan menang dan menguasai.

    Jangan bicara soal kualitas anak-anak mereka, itu sangat jauh sekali. Sebenarnya banyak sekali orang-2 yang berpotensi tetapi tidak bisa sekolah, karena akses susah dan biaya tidak mencukupi.

    Akhirnya orang2 miskin hanya jadi penonton, penonton bagi mereka yang punya uang dan kuasa. Mereka berpesta pora dengan semaunya.

    Ah…. bangsa ku, bangsa endonesia,
    Bangsaku sayang, bangsaku malang.

  6. mrtajib on 06.03.2007 at 07:23 (Reply)

    nambah bikin nek……..

  7. zaki on 06.03.2007 at 10:26 (Reply)

    SMA TN begitu, gimanah yg laeeennnn….?
    Just another “fenomena puncak gunung es”-kah?
    Prihatin euy!

  8. Kang Kombor on 06.03.2007 at 12:31 (Reply)

    @xwoman:
    Harusnya saya masukin ke kategori Cermin Retak ya? Tapi… nggak bakalan bisa masup. Cermin Retak untuk introspeksi pribadi jee…

    @Mas Anang:
    Mari lestarikan budaya bangsa(t) yang luhur ini.

    @Pak Guru:
    Setelah Bung Karno meninggal, revolusi sudah selesai. Gimana memulainya lagi, Pak?

    @ferdhie:
    kamdol malang apaan sih?

    @Kang Prayogo:
    Kalau Agus Harimurti Yudhoyono, putra Pak SBY, itu top tenan. Dia bukan anak cengeng. Lagipun waktu Agus dulu masup, Pak SBY belum setenar sekarang. Kang Kombor nggak yakin Agus keterima di Magelang karena priviledge. Beda ma yang laennhhhhh…

    @Kang Tajib:
    Dhela maning muntah ki…

    @Zaki:
    Nggak tahu deh apakah SMA Pak Try Sutrisno di Bandung begitu juga.

  9. Oddie on 06.03.2007 at 15:07 (Reply)

    Kang Kombor, apa benar Murid Siswa TN disiksa kaya di Tivi-tivi itu?, mohon dijawab jujur.

  10. Kang Kombor on 06.03.2007 at 17:38 (Reply)

    @Oddie:
    Disiksa kayak di tivi? Tivi yang mana? Siapa yang nyiksa? Kok Kang Kombor nggak pernah disiksa atau pun menyiksa?

    Sadis temen… disiksa.

  11. mina on 06.03.2007 at 21:04 (Reply)

    apa itu berarti kualitas anak2 TN sekarang turun? karena menerima titipan seperti itu (buat apa dititip2 kalo nilainya memang gak cukup? kalo cukup, pasti gak perlu dititip2 to?) berarti memberi kesempatan input mahasiswa yang jelek tapi berduit.

  12. PAPABONBON on 07.03.2007 at 16:59 (Reply)

    ttg masalah tni. lha, yg punya jabatan aja sering gak laku ketebelecenya, kala sama uang.

    makanya 70 siswa jalur khusus [duit dan dompet tebel], sementara pejabat cuman 20 sahaja. ini menunjukkan supremasi sipil diatas supremsi tentara. :p

  13. Kang Kombor on 07.03.2007 at 18:17 (Reply)

    @Mina:
    Terus terang Kang Kombor belum bicara soal kualitas. Masih bicara soal berkompetisi secara adil.

    @papabonbon:
    OO… pantes kalau gitu. Pantes ada jederal yang jadi beking pembebasan tanah.

  14. maiiang on 08.03.2007 at 22:28 (Reply)

    Kang Kombor (kok namanya gini sih?),
    aku mau daftar TN nihh.
    tapi dari artikel di atas, kok kayaknya hampir ga bisa lagi.
    bukannya apa”, tapi mamaku pasti banget 100% nggak mau nyogok, apalagi cari “kenalan”.
    apalagi kurikulum sekolahku KBK. ntar ga nyambung lagi sama tes TN.
    20 kursi buat anak pejabat? wooah, sayangnya saya bukan anak pejabat. penerimaan jalur khusus? lhahdhalah. apa pula itu.
    Kang, kalo cita-citanya bukan jadi tentara, boleh gak sih masuk TN? katanya punya Dephan.
    padahal niat jadi tentara ga ada. pengennya jadi fashion designer (Hm-hm! dasar maiiang odoh).
    kepanjangan ya Kang? Jawab ya!

    NB : Eh, salam kenal lho ya ?

  15. Kang Kombor on 09.03.2007 at 14:56 (Reply)

    @Mayang:
    Kombor itu paraban. Nama keren gitu lohh…

    Tenang Mayang, 200 kursi kan melalui seleksi murni. Nah, Mayang bisa bersaing dengan yang lain yang tidak melalui jalur khusus dan jatah pejabat itu.

    Masuk TN tidak harus jadi tentara. Kang Kombor ini bukti nyatanya. Bisa dikatakan setiap angkatan yang masuk tentara itu tidak sampai 50%. Sebagian besar menyebar ke jalur-jalur sipil.

    NB: Salam kenal juga. Silakan kirim email ke kombor@suaraku.com kalau mau kenal lebih lanjut. Halah….

  16. NanDra_CaSis 2007 on 15.03.2007 at 18:22 (Reply)

    G sru tuh…..

  17. vip on 16.04.2007 at 09:54 (Reply)

    Diampuuuuuuuuuuut poll memang pejabat tsb, n yang guoblok berat n mentalnya rusak so pasti pengelola SMATKN juga, kenapa koq mau2nya nerima paket khusus tsb. Sekarang kan bukan jaman feodal orde baru lagi,
    Diampuuuuut……………diamputttttttttttttttt

  18. bondan on 16.04.2007 at 10:28 (Reply)

    Itu sih ibarat pepatah yang mengatakan berpesta pora diatas penderitaan orang lain.

  19. *** casis TN 2007 on 16.04.2007 at 21:32 (Reply)

    CURANG!!!!

  20. ayu on 17.04.2007 at 09:30 (Reply)

    Kang Kombor, ngomong dong…………….

  21. Kang Kombor on 17.04.2007 at 13:43 (Reply)

    @ayu:
    Kang Kombor harus ngomong apa lagi, Ndhuk? Kan semua sudah Kang Kombor nyatakan pada tulisan di atas. Kang Kombor sangat tidak setuju pada jatah 20 kursi untuk anak penjahat itu.

  22. koka on 18.12.2007 at 00:50 (Reply)

    sedikit pancingan: salah satu faktor adanya kecolongan seperti itu, menurut saya, karena beban anggaran yang disangga TN terlalu berat sehingga harus membebankan kepada orang tua siswa dengan jumlah yang sedemikian besar. nah, kepada abang2 alumni TN yang mau support (katanya sih cuman sekitar 100ribu-an per bulan -buka aja di ikastara-) marilah kita bantu negeri kita yang bobrok ini dengan memberi kesempatan pada calon pemimpin negeri kita yang sekarang masih terbenam di bawah kerasnya kehidupan.

  23. Putu on 15.02.2008 at 10:49 (Reply)

    hmmmnnn… pertama kali baca judulnya aja udah kerasa disambar mbledeg :)
    semakin tahun jadi makin heran juga sih jadinya, namun… saya rasa, emang kampus kita apakah gampangnya bisa dikatakan kekurangan dana..
    setiap tahun sy main kesana, kok semakin gak terawat ya perasaan. apa cuman perasaan sy aja atau emang keadaannya spt itu.
    cuman, kalau ada istilah jatah menjatah, meski anak siapapun, kayanya gak pas deh dan emang gak seharusnya!

    tp ampe kapanpun, TN emang tetep keren!!

  24. Handhar on 10.05.2008 at 07:58 (Reply)

    haiiiiiii….
    salam kenal,
    q handhar from pekanbaru
    q kan kmaren kut tes sma taruna tpi q ga´ tau hasil na
    q mau do´a nya gar q lu2s di sma taruna yaaa

    makasihhhh

Leave a comment